(Intisari
Khutbah 7 Ramadhan 1433 H)
Oleh
: Drs.KH. NANSUDIN
Alhamdulillah kita masih menikmati bulan suci Ramadhan
1433 H di hari ke 7 ini. Insya Allah apabila puasa yang kita lakukan karena إِيْمَانًاوَاحْتِسَابًا , maka Allah akan memberi karunia غُفِرَلَهُ مَاتَقَّدَمَ مِنْ ذَنِيْهِ وَمَاتَأخَّرَ , diampuni dosa yang lalu dan yang akan datang dengan pengertian setelah
berpuasa seorang mukmin berkehidupan lebih bertaqwa sehingga bersih dari
dosa-dosa.Kita juga bersyukur selama Ramadhan ini kita diberi kekuatan
melakukan shalat tarawih yang hanya dilakukan di malam hari. Di seluruh dunia
Islam, di masjid-masjid kita dapati shalat tarawih dilakukan secara berjamaah
sehingga membentuk suasana yang khas yang sangat bermanfaat untuk membina
ukhuwah dan da’wah.
Dari Aisyah diriwayatkan bahwa Nabi SAW. pada suatu
malam Ramadhan shalat di masjid lalu orang banyak mengikuti sebagai makmun
dibelakangnya. Beliau shalat lagi malam berikutnya dan orang pun makin banyak
mengikutinya. Pada malam ke-3 dan ke-4 orang berkumpul dan menunggu, namun
Rasulullah tidak hadir keluar malam itu. Esok subuhnya Rasulullah hadir dan
bersabda : “Telah aku lihat apa yang sudah engkau kerjakan, tidak ada yang
menghalangi aku keluar tadi malam melainkan aku takut shalat tarawih itu
dianggap wajib atau fardhu”.
Shalat tarawih ramai dikerjakan orang di masjid setiap
malam Ramadhan, begitu pula pada zaman Khalifah Abu Bakar setelah Rasulullah
SAW wafat.Ketika Umar bin Khatab menjadi khalifah beliau mendapati sesuatu
kejanggalan, seperti diriwayatkan oleh A. Rahman Abdil Qari : “Aku pergi
bersama Umar bin Khatab, sang Khalifah dalam bulan Ramadhan ke masjid pada
suatu malam. Kami dapati orang banyak shalat tarawih ber kelompok-kelompok,
bercerai berai, ada yang shalat sendirian sampai selesai, ada yang mulanya
sendiri lalu diikuti orang banyak dan tentu ada pula orang yang duduk- duduk
tidak bershalat.
Maka berkatalah Umar “Menurutku satu bacaan saja, itu
lebih bagus“ lalu beliau perintahkan agar orang-orang berjamaah dengan imam.
Beliau tunjuk Ubay bin Ka’ab menjadi imam. Di malam yang lain kami berubah
masuk ke dalam masjid dan kami dapati orang telah shalat dengan satu qori
(Imam), maka berkatalah Umar bin Khatab “inilah sebaik-baik bid’ah“ (HR.
Bukhari).Dengan demikian kita tahu bahwa Umarlah orang yang pertama mengatur
shalat tarawih berjama’ah, suatu hal yang tidak pernah dilakukan di zaman
Rasulullah.
Dalam hadits Siti Aisyah berkata ; “Tidaklah Nabi
SAW menambah, baik di bulan Ramadhan atau bulan lainya lebih dari 11
rakaat” (HR. Buhkari Muslim). Namun Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ mengutip
hadits dari Yazid Ibnu Rumman yang mengatakan; bahwa shalat tarawih di zaman
Umar bin Khattab adalah 23 rakaat (20 ditambah 3 witir) Berdasarkan beberapa
hadits yang lain yang menjelaskan beberapa jumlah raka’at tarawih yang berbeda.
Karena itu para Ulama telah banyak melakukan shalat tarawih yang jumlah
raka’atnya berbeda-beda, selain 23 raka’at ada 21, 24, 36, 41, dan 43 rakaat
Pada zaman itu biarpun berbeda-beda namun tidak saling
menyalahkan, karena ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih tidak ditentukan
dengan bilangan tertentu oleh Rasulullah.Beberapa amal bid’ah hasanah juga
dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan dengan mengkondifikasikan atau
membukukan Al Qur’an yang dulunya dilarang untuk ditulis oleh Rasulullah SAW.
Apabila hal tersebut tidak dilakukan dapat kita bayangkan betapa sulitnya
berpedoman pada kita suci Al Qur’an, yang keberadaannya hanya dalam kepala/
hapalan orang –orang yang menghapalkanya.
Kerajaan Arab Saudi belakangan juga melakukan bid’ah
yang hasanah dengan mengatur masa, tempat sa’i menjadi dua jalur, untuk yang
pergi dan yang kembali, bahkan sa’i bisa dilakukan dilantai 1, 2, dan 3, memperluas
tempat pelontaran jumroh dan menjadikanya dua lantai dan mengatur perluasan
mabit di Mina.Apabila kita merasa berat, malas melakukan ibadah di bulan
Ramadhan sekarang ini, cobalah merenung dan berfikir, muhasabah, mereka-reka
seumpama telah berkata kepada kita bahwa atas kehendakNya, inilah Ramadhan
terakhir yang dikaruniakan Allah kepada kita.
Semoga persepsi Ramadhan terakhir itu dapat memicu
kita mengisi Ramadhan dengan intens.Walaupun itu hanya perumpamaan, namun Tuhan
mustahil hal tersebut adalah kenyataan, banyak orang yang kita kenal dan kita
cintai, masih ada di Ramadhan yang lalu, sudah tiada di Ramadhan kini. Wallahu
a’lam!


0 komentar:
Posting Komentar