home |profile | catatan |

Minggu, 26 Agustus 2012

Menggapai Lailatul Qadr

Posted by Khanief MuleiCute 21.31, under | No comments



Makna Lailatul Qadr
Lailatul Qadr adalah malam diturunkannya al-Quran oleh Allah Ta'ala. Adapun tentang makna lailatul qadr, ada beberapa pendapat para ulama.
Pertama: maknanya adalah malam keputusan; atau malam penetapan. Dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Ta'ala menetapkan perintah-Nya yang Dia kehendaki, yang berupa kematian, ajal, rezki dan lainnya sampai malam al-qadr tahun beriktunya. Ini pendapat Ibnu Abbas, Ikrimah dan Sa'id bin Jubair. 
Kedua: maknanya adalah malam kemuliaan. Dinamakan demikian karena keagungannya, dan kemuliaannya. Ini pendapat az-Zuhri dan lainnya. Ada juga yang mengatakan dinamakan demikian karena perbuatan-perbuatan ketaatan pada malam itu memiliki nilai yang agung dan pahala yang banyak. Abu Bakar al-Warraq berkata: "Dinamakan demikian karena orang yang tidak punya kemuliaan dan keutamaan akan mendapatkannya, jika dia menghidupkan malam tersebut." Ada juga yang mengatakan dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Ta'ala menurunkan Kitab (al-Quran) yang memiliki kemuliaan, kepada Rasul (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) yang memiliki kemuliaan. Pendapat lain menyatakan, karena pada malam itu para malaikat yang memiliki kemuliaan dan kepentingan turun ke bumi. Pendapat lain menyatakan, karena pada malam itu Allah Ta'ala menurunkan kebaikan, berkah dan ampunan.
Ketiga: maknanya adalah malam yang sempit. Dinamakan demikian karena pada malam itu bumi sesak/sempit dengan para malaikat. Ini dinyatakan oleh al-Khalil.
(Lihat semua keterangan di atas dalam Tafsir al-Qurthuby surat al-Qadr).
Keutamaannya
Cukuplah sebagai keutamaannya bahwa lailatul qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Allah berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. al-Qadr 1-3).
Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah suatu amalan yang dilakukan pada malam itu lebih baik daripada amalan yang dilakukan seribu bulan yang tidak ada lailatul qadr padanya. Ini dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Syafi'i, dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, al-Qurthuby, as-Sa'di dan lainnya dalam surat al-Qadr).
Oleh karena itulah lailatul qadr merupakan malam yang diberkahi. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Haa Miim. Demi Kitab (al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul sebagai rahmat dari Rabb-mu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS ad-Dukhan 1-6).
Waktunya
Ada riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa lailatul qadr terjadi pada malam Ramadhan ke 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. Pendapat terkuat waktunya adalah pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan". (HR. Bukhari, Muslim no. 1169 dari 'Aisyah). 
Dan memang ilmu tentang hal tersebut telah diambil oleh Allah dari Nabi gara-gara kesalahan (yaitu pertengkaran) yang dilakukan oleh dua laki-laki diantara ummmat beliau. 'Ubadah bin as-Shamit berkata: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar akan memberitahukan tentang lailatul qadr, lalu ada dua laki-laki diantara kaum muslimin bertengkar maka beliau bersabda: "Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kalian tentang lailatul qadr. Tetapi sesungguhnya si Fulan dan si Fulan bertengkar sehingga diangkatlah (ilmu tentang waktu lailatul qadr). Namun mudah-mudah hal itu lebih baik bagi kalian. Carilah lailatul qadr pada malam tujuh, sembilan dan lima (yang terakhir)." (HR. al-Bukhari).
Menggapai Keutamaannya
Jika kita telah mengetahui hal-hal di atas, hendaklah kita memperbanyak berbagai amalan ketaatan pada waktu-waktu di atas. Amalan-amalan itu seperti shalat tarawih, membaca al-Quran, shadaqah, dzikir berdoa dan lain-lain. 
'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika telah masuk sepuluh akhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan isterinya, bersungguh-sungguh (beribadah) dan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli isterinya)." (HR. Bukhari dan Muslim 1174).
'Aisyah juga pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda jika aku mengetahui waktu lailatul qadr, apa yang aku ucapkan di malam itu?" Beliau menjawab: "Ucapkanlah: Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah daku)." (HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)
Tanda-tandanya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahukan tanda-tanda lailatul qadr di dalam beberapa haditsnya, antara lain: Dari Abu Hurairah dia berkata: "Kami memperbincangkan lailatul qadr di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: "Siapa diantara kalian yang mengingat ketika bulan muncul, yang bulan itu seperti separuh piring". (HSR. Muslim).
Al-Qadhi 'Iyadh berkata: "Padanya terdapat isyarat bahwa lailatul qadr hanyalah akan terjadi pada akhir-akhir bulan, karena bulan tidak akan demikian munculnya kecuali pada akhir-akhir bulan". (Sifat Shaum Nabi, hal. 90).
Ubay bin Ka'b berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui kapan lailatul qadr itu, yaitu malam yang kami diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk shalat padanya. Yaitu malam yang besok paginya (adalah hari ke) dua puluh tujuh. Adapun tandanya adalah matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih tidak menyilaukan." (HSR. Muslim no. 762, Tirmidzi, Abu Dawud, al-Humaidi dan lainnya).
Ibnu Abbas berkata: "Lailatul Qadr adalah malam yang lembut, sedang, tidak panas, tidak dingin; matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan lembut, merah". (HR. at-Thayalisi 349, Ibnu Khuzaimah dan al-Bazzar dengan sanad yang hasan)
Bid'ah-bid'ah Seputar Lailatul Qadr
Kami sampaikan di sini beberapa contoh bid'ah yang berkaitan dengan lailatul qadr; supaya kita tidak terjerumus di dalamnya. Bid'ah-bid'ah itu antara lain:
  • Shalat lailatul qadr. Yakni melakukan shalat khusus berkenaan dengan lailatul qadr. (Lihat Mu'jamul Bida' hal. 605 karya Syeikh Raid bin Shabri bin Abi 'Ulfah).
  • Keyakinan malam pertengahan Ramadhan adalah malam lailatul qadr. (Lihat Mu'jamul Bida' hal. 605).
  • Berkumpul di masjid-masjid untuk menyambut lailatul qadr; dengan mendendangkan qasidah-qasidah dan memukul rebana. (Lihat Mu'jamul Bida' hal. 605).
  • Membuat shadaqah dengan makanan-makanan khusus (seperti nasi kuning, kue apem, dan lain-lain) pada malam ke-21 atau 29, lalu dibawa ke tempat kyai/penghulu untuk dido'akan.
Setelah kita mengetahui semua ini, marilah berlomba-lomba di dalam kebaikan untuk meraih keutamaan lailatul qadr dan meninggalkan berbagai bid'ah yang ada. Wallahul Muwaffaq (semoga Allah memberi petunjuk dan bimbingan).

10 hikmah puasa

Posted by Khanief MuleiCute 21.26, under | No comments


1. Bulan Ramadhan bulan melatih diri untuk disiplin waktu. Dalam tiga puluh hari kita dilatih disiplin bagai tentara, waktu bangun kita bangun, waktu makan kita makan, waktu menahan kita sholat, waktu berbuka kita berbuka, waktu sholat tarawih, iktikaf, baca qur'an kita lakukan sesuai waktunya. Bukankah itu disiplin waktu namanya? Ya kita dilatih dengan sangat disiplin, kecuali orang tidak mau ikut latihan ini.
2. Bulan Ramadhan bulan yang menunjukkan pada manusia untuk seimbang dalam hidup. Di bulan Ramadhan kita bersemangat untuk menambah amal-amal ibadah,
dan amal-amal sunat. Artinya kita menahan diri atas satu pekerjaan yang monoton dan lalai beribadah kepadaNya. Orang yang lalai atas mengingat Allah, selalu asyik dengan pekerjaannya, sehingga waktu istirahat siang, sholat, dan makan sering terabaikan. Atau waktu yang seharusnya dipakai untuk beribadah kepada Allah dipakai untuk makan siang bersama kekasih. Sholat? tinggal. Di bulan Ramadhan kita diajarka hidup seimbang, antara pekerjaan, dan Ibadah. Pekerjaan untuk kepentingan dunia dan Ibadah untuk kepentingan Akhirat.
3. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan Manusia akan pentingnya arti persaudaraan, dan silaturahmi. Di keluarga orang yang tidak mengerti akan arti persaudaraan. Persaudaraan di keluarga tidak begitu akrab, adik beradik bertengkar, Ibu dan Ayah kadang saling tidak memperhatikan. Persaudaraan dari Gang Jalanan, banyak juga perkelahiannya. Persaudaraan atas satu kelompok, satu bangsa, satu tanah air, hanya selogan dan nama, kurang sekali mendapat makna. Dalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid. Semuanya didapat gratis tanpa bayaran. Sesama muslim saling bersalaman, bercengkrama saling menanyakan kabar. Sama-sama sholat tarawih tadarus dengan saling mengajarkan Qur'an, dan banyak makanan sedekah di Masjid. Ya tentunya Gratis. Persaudaraan sesama muslim sebenarnya punya pelajaran dan bab khusus, ada ayat qur'an tentang persaudaraan, ada banyak hadits nabi, tetapi jarang diperhatikan orang betapa pentingnya arti persaudaraan itu. Tetapi dibulan Ramadha ia akan tampak dengan sendirinya.
4. Bulan Ramadhan mengajarkan agar peduli pada orang lain yang lemah. Di bulan Ramadhan kita puasa, merasaka lapar dan dahaga, mengingatkan kita betapa sedihnya nasib orang yang tidak berpunya, orang terlantar, anak yatim yang tiada orang tuanya, fakir miskin yang hidup di tempat yang tidak layak. Apakah kita tidak merasa prihatin? Sehingga kita peduli untuk membantu saudara-saudara kita yang kelaparan. Baik karena kondisi ekonomi, atau disebabkan bencana Alam. Allah menyindir orang yang tidak peduli pada nasib orang lain yang miskin sebagai pendusta Agama. Juga Allah mengataka orang yang tidak peduli dengan nasib fakir miskin dan anak yatim sebagai orang yang tidak mempergunakan potensi pancaindranya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Orang yang tidak peduli dengan orang lain juga disebut sebagai orang yang salah menilai atau memandang kehidupan.
5. Bulan Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan dalam kehidupan. Di bulan puasa kita diharuskan sungguh-sungguh dalam beribadah, menetapkan niat yang juga berisi tujuan kenapa dilakukannya puasa. Tuajuan puasa adalah untuk melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan Ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Tapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi kita terbiasa berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala macam amal ibadah.
6. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita hidup ini harus selalu mempunyai nilai ibadah. Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat bernilai ibadah.
7. Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, terutama yang mengandung dosa. Dibulan Ramadhan kita berpuasa. Kita menahan Lapar dan dahaga. Bukan itu saja. Tetapi juga menahan segala yang dapat membatalkan puasa, juga segala yang dapat merusak puasa. Terutama hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sehingga di dalam bulan Ramadhan kita dapat terbiasa dan terlatih untuk menghindari dosa-dosa kita agar kita senantiasa bersih dari perbuatan yang dapat menimbulkan dosa. Latihan ini menimbulkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing, berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain sebagainya.
8. Bulan Ramadhan melatih kita untuk selalu tabah dalam berbagai halangan dan rintangan. Dalam Puasa di bulan Ramadhan kita dibiasakan menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya marah-marah, berburuk sangka, dan dianjurkan sifat Sabar atas segala perbuatan orang lain kepada kita. Misalkan ada orang yang menggunjingkan kita, atau mungkin meruncing pada Fitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam keadaan Puasa. Dengan Sabar hasutan Syeitan untuk memperuncing konflik menjadi gagal. Kitalah pemenangnya dari godaan Syeitan tersebut. Masalah orang menggunjing, memfitnah, biarlah itu jadi dosa-dosanya, janganlah kita ikut berdosa dengan dosa orang lain.
9. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan arti hidup hemat dan sederhana. Setiap hari kita membeli kue dan minuman untuk berbuka puasa. Dari sekian banya kue dan minuman yang kita beli. Hanya minuman segelas teh buatan kita sendiri yang diminum. Yang lain banyak tertinggal dan sebagian terbuang keesokan harinya. Hal ini menyadarkan kita, bahwa apa yang kita beli banyak-banyak sebelum berbuka, hanyalah hawa nafsu saja. Kebutuhan kita hanyalah segelas teh manis! Mengapa kita harus membeli banyak-banyak minuman dan kue-kue yang akhirnya tidak kita makan? Hal ini menyadarkan kita betapa kita harus hemat, membeli sekedar yang dibutuhkan. Kelebihan uang yang kita punyai mungkin dapat kita sedekahkan bagi yang lebih membutuhkan.
10. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan pentingnya rasa syukur kita, atas nikmat-nikmat yang diberikan pada kita. Rasa syukur kita akan adanya nikmat makanan yang telah kita punyai terasa ketika kita puasa. Kita merasakan lapar, tetapi kita masih mempunyai makanan. Bagaimana dengan orang yang merasakan lapar tetapi bukan karena ia juga puasa, tetapi karena memang tidak punya makanan? Kita sakit, kita dapat makan obat ketika buka, tetapi bagaimana dengan orang yang tidak punya obat, ketika ia sakit? Kita enak, ketika kita puasa merasa lapar dan haus, kita lengahkan dengan menonton televisi atau hal-hal lain seperti internet. Bagaimana dengan orang ketika ia lapa dan haus mereka lengahkan lapar dan hausnya dengan bekerja memenuhi tuntutan majikannya? Bukan karena memang tidak punya televisi atau internet, tetapi karena tuntutan hidup, yang mengharuskan ia bekerja untuk makan hari ini dan hari ketika ia tidak bekerja. Tidakkah harusnya kita bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan pada kita?

Jumat, 27 Juli 2012

Intisari Khutbah 7 Ramadhan 1433 H

Posted by Khanief MuleiCute 07.34, under | No comments



 Oleh : Drs.KH. baedlowi
Alhamdulillah kita masih menikmati bulan suci Ramadhan 1433 H di hari ke 7 ini. Insya Allah apabila puasa yang kita lakukan karena إِيْمَانًاوَاحْتِسَابًا , maka Allah akan memberi karunia غُفِرَلَهُ مَاتَقَّدَمَ مِنْ ذَنِيْهِ وَمَاتَأخَّرَ  , diampuni dosa yang lalu dan yang akan datang dengan pengertian setelah berpuasa  seorang mukmin berkehidupan lebih bertaqwa sehingga bersih dari dosa-dosa.Kita juga bersyukur selama Ramadhan ini kita diberi kekuatan melakukan shalat tarawih yang hanya dilakukan di malam hari. Di seluruh dunia Islam, di masjid-masjid kita dapati shalat tarawih dilakukan secara berjamaah sehingga membentuk suasana yang khas yang sangat bermanfaat untuk membina ukhuwah dan da’wah.
Dari Aisyah diriwayatkan bahwa Nabi SAW. pada suatu malam Ramadhan shalat di masjid lalu orang banyak mengikuti sebagai makmun dibelakangnya. Beliau shalat lagi malam berikutnya dan orang pun makin banyak mengikutinya. Pada malam ke-3 dan ke-4 orang berkumpul dan menunggu, namun Rasulullah tidak hadir keluar malam itu. Esok subuhnya Rasulullah hadir dan bersabda : “Telah aku lihat apa yang sudah engkau kerjakan, tidak ada yang menghalangi aku keluar tadi malam melainkan aku takut shalat tarawih itu  dianggap wajib atau fardhu”.
Shalat tarawih ramai dikerjakan orang di masjid setiap malam Ramadhan, begitu pula pada zaman Khalifah Abu Bakar setelah Rasulullah SAW wafat.Ketika Umar bin Khatab menjadi khalifah beliau mendapati sesuatu kejanggalan, seperti diriwayatkan oleh A. Rahman Abdil Qari : “Aku pergi bersama Umar bin Khatab, sang Khalifah dalam bulan Ramadhan ke masjid pada suatu malam. Kami dapati orang banyak shalat tarawih ber kelompok-kelompok, bercerai berai, ada yang shalat sendirian sampai selesai, ada yang mulanya sendiri lalu diikuti orang banyak dan tentu ada pula orang yang duduk- duduk tidak bershalat. 
Maka berkatalah Umar “Menurutku satu bacaan saja, itu lebih bagus“ lalu beliau perintahkan agar orang-orang berjamaah dengan imam. Beliau tunjuk Ubay bin Ka’ab menjadi imam. Di malam yang lain kami berubah masuk ke dalam masjid dan kami dapati orang telah shalat dengan satu qori (Imam), maka berkatalah Umar bin Khatab “inilah sebaik-baik bid’ah“ (HR. Bukhari).Dengan demikian kita tahu bahwa Umarlah orang yang pertama mengatur shalat tarawih berjama’ah, suatu hal yang tidak pernah dilakukan di zaman Rasulullah.
Dalam hadits Siti Aisyah berkata ; “Tidaklah Nabi SAW menambah, baik di bulan Ramadhan atau bulan lainya  lebih dari 11 rakaat” (HR. Buhkari Muslim). Namun Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ mengutip hadits dari Yazid Ibnu Rumman yang mengatakan; bahwa shalat tarawih di zaman Umar bin Khattab adalah 23 rakaat (20 ditambah 3 witir) Berdasarkan beberapa hadits yang lain yang menjelaskan beberapa jumlah raka’at tarawih yang berbeda. Karena itu para Ulama telah banyak melakukan shalat tarawih yang jumlah raka’atnya berbeda-beda, selain 23 raka’at ada 21, 24, 36, 41, dan 43 rakaat
Pada zaman itu biarpun berbeda-beda namun tidak saling menyalahkan, karena ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih tidak ditentukan dengan bilangan tertentu oleh Rasulullah.Beberapa amal bid’ah hasanah juga dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan dengan mengkondifikasi­kan atau membukukan Al Qur’an yang dulunya dilarang untuk ditulis oleh Rasulullah SAW. Apabila hal tersebut tidak dilakukan dapat kita bayangkan betapa sulitnya berpedoman pada kita suci Al Qur’an, yang keberada­an­nya hanya dalam kepala/ hapalan orang –orang yang menghapalkanya.
Kerajaan Arab Saudi belakangan juga melakukan bid’ah yang hasanah dengan mengatur masa, tempat sa’i menjadi dua jalur, untuk yang pergi dan yang kembali, bahkan sa’i bisa dilakukan dilantai 1, 2, dan 3, mem­perluas tempat pelontaran jumroh dan menjadikanya dua lantai dan mengatur perluasan mabit di Mina.Apabila kita merasa berat, malas melakukan ibadah di bulan Ramadhan sekarang ini, cobalah merenung dan berfikir, muhasabah, mereka-reka seumpama telah berkata kepada kita bahwa atas kehendak­Nya, inilah Ramadhan terakhir yang dikaruniakan Allah kepada kita.
Semoga persepsi Ramadhan terakhir itu dapat memicu kita mengisi Ramadhan dengan intens.Walaupun itu hanya perumpamaan, namun Tuhan mustahil hal tersebut adalah kenyataan, banyak orang yang kita kenal dan kita cintai, masih ada di Ramadhan yang lalu, sudah tiada di Ramadhan kini. Wallahu a’lam! 

Posted by Khanief MuleiCute 06.57, under | No comments


(Intisari Khutbah 7 Ramadhan 1433 H)
 Oleh : Drs.KH. NANSUDIN
Alhamdulillah kita masih menikmati bulan suci Ramadhan 1433 H di hari ke 7 ini. Insya Allah apabila puasa yang kita lakukan karena إِيْمَانًاوَاحْتِسَابًا , maka Allah akan memberi karunia غُفِرَلَهُ مَاتَقَّدَمَ مِنْ ذَنِيْهِ وَمَاتَأخَّرَ  , diampuni dosa yang lalu dan yang akan datang dengan pengertian setelah berpuasa  seorang mukmin berkehidupan lebih bertaqwa sehingga bersih dari dosa-dosa.Kita juga bersyukur selama Ramadhan ini kita diberi kekuatan melakukan shalat tarawih yang hanya dilakukan di malam hari. Di seluruh dunia Islam, di masjid-masjid kita dapati shalat tarawih dilakukan secara berjamaah sehingga membentuk suasana yang khas yang sangat bermanfaat untuk membina ukhuwah dan da’wah.
Dari Aisyah diriwayatkan bahwa Nabi SAW. pada suatu malam Ramadhan shalat di masjid lalu orang banyak mengikuti sebagai makmun dibelakangnya. Beliau shalat lagi malam berikutnya dan orang pun makin banyak mengikutinya. Pada malam ke-3 dan ke-4 orang berkumpul dan menunggu, namun Rasulullah tidak hadir keluar malam itu. Esok subuhnya Rasulullah hadir dan bersabda : “Telah aku lihat apa yang sudah engkau kerjakan, tidak ada yang menghalangi aku keluar tadi malam melainkan aku takut shalat tarawih itu  dianggap wajib atau fardhu”.
Shalat tarawih ramai dikerjakan orang di masjid setiap malam Ramadhan, begitu pula pada zaman Khalifah Abu Bakar setelah Rasulullah SAW wafat.Ketika Umar bin Khatab menjadi khalifah beliau mendapati sesuatu kejanggalan, seperti diriwayatkan oleh A. Rahman Abdil Qari : “Aku pergi bersama Umar bin Khatab, sang Khalifah dalam bulan Ramadhan ke masjid pada suatu malam. Kami dapati orang banyak shalat tarawih ber kelompok-kelompok, bercerai berai, ada yang shalat sendirian sampai selesai, ada yang mulanya sendiri lalu diikuti orang banyak dan tentu ada pula orang yang duduk- duduk tidak bershalat. 
Maka berkatalah Umar “Menurutku satu bacaan saja, itu lebih bagus“ lalu beliau perintahkan agar orang-orang berjamaah dengan imam. Beliau tunjuk Ubay bin Ka’ab menjadi imam. Di malam yang lain kami berubah masuk ke dalam masjid dan kami dapati orang telah shalat dengan satu qori (Imam), maka berkatalah Umar bin Khatab “inilah sebaik-baik bid’ah“ (HR. Bukhari).Dengan demikian kita tahu bahwa Umarlah orang yang pertama mengatur shalat tarawih berjama’ah, suatu hal yang tidak pernah dilakukan di zaman Rasulullah.
Dalam hadits Siti Aisyah berkata ; “Tidaklah Nabi SAW menambah, baik di bulan Ramadhan atau bulan lainya  lebih dari 11 rakaat” (HR. Buhkari Muslim). Namun Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ mengutip hadits dari Yazid Ibnu Rumman yang mengatakan; bahwa shalat tarawih di zaman Umar bin Khattab adalah 23 rakaat (20 ditambah 3 witir) Berdasarkan beberapa hadits yang lain yang menjelaskan beberapa jumlah raka’at tarawih yang berbeda. Karena itu para Ulama telah banyak melakukan shalat tarawih yang jumlah raka’atnya berbeda-beda, selain 23 raka’at ada 21, 24, 36, 41, dan 43 rakaat
Pada zaman itu biarpun berbeda-beda namun tidak saling menyalahkan, karena ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih tidak ditentukan dengan bilangan tertentu oleh Rasulullah.Beberapa amal bid’ah hasanah juga dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan dengan mengkondifikasi­kan atau membukukan Al Qur’an yang dulunya dilarang untuk ditulis oleh Rasulullah SAW. Apabila hal tersebut tidak dilakukan dapat kita bayangkan betapa sulitnya berpedoman pada kita suci Al Qur’an, yang keberada­an­nya hanya dalam kepala/ hapalan orang –orang yang menghapalkanya.
Kerajaan Arab Saudi belakangan juga melakukan bid’ah yang hasanah dengan mengatur masa, tempat sa’i menjadi dua jalur, untuk yang pergi dan yang kembali, bahkan sa’i bisa dilakukan dilantai 1, 2, dan 3, mem­perluas tempat pelontaran jumroh dan menjadikanya dua lantai dan mengatur perluasan mabit di Mina.Apabila kita merasa berat, malas melakukan ibadah di bulan Ramadhan sekarang ini, cobalah merenung dan berfikir, muhasabah, mereka-reka seumpama telah berkata kepada kita bahwa atas kehendak­Nya, inilah Ramadhan terakhir yang dikaruniakan Allah kepada kita.
Semoga persepsi Ramadhan terakhir itu dapat memicu kita mengisi Ramadhan dengan intens.Walaupun itu hanya perumpamaan, namun Tuhan mustahil hal tersebut adalah kenyataan, banyak orang yang kita kenal dan kita cintai, masih ada di Ramadhan yang lalu, sudah tiada di Ramadhan kini. Wallahu a’lam! 

Created By UC - Blog Sederhana